Gerinda mengemis untuk koalisi

April 30, 2009 oleh girathe182

kampanye damai pemilu indonesia 2009, Dukung saya Ya pasang linknya di sidebar!!Berbeda dengan partai-partai lain, Partai Demokrat benar-benar merasa berada di atas angin. Ini juga tampak dari nuansa dialog SBY dengan para wartawan Istana di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (19/4). Partai Demokrat dan SBY ibarat kekuatan politik yang merasa “sudah menang sebelum bertanding”. Simak misalnya kriteria cawapres yang diajukan SBY. Penulis sampai sampai tidak dapat membedakan, apakah SBY bicara sebagai presiden atau capres? Simak misalnya lima kriteria cawapres yang diajukan SBY.

Pertama, tokoh itu harus memiliki integritas, berakhlak, memiliki moral, termasuk moral politik, bukan orang yang pragmatis dan oportunis. Kedua,memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin, tetapi harus memahami kapasitasnya sebagai “pembantu presiden” sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Ketiga, memiliki loyalitas yang penuh kepada presiden dan bebas dari konflik kepentingan. Keempat, memiliki akseptabilitas dalam arti diterima dan lekat di hati rakyat. Kelima, dapat meningkatkan kekokohan dan efektivitas koalisi yang dibangun.

SBY juga menolak adanya “dua matahari” atau “matahari kembar” di dalam kabinetnya karena presiden adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pemerintahan. Ia juga menafikan adanya pembagian kerja antara presiden dan wapres karena yang dikerjakan wapres adalah atas dasar perintahnya. Kalimat-kalimat bersayap SBY itu memang dapat saja mengandung banyak arti dalam ber kampanye damai pemilu indonesia 2009.

Di satu sisi, ada yang berpendapat itu adalah sesuatu yang normatif semata. Namun jika kita menyelami makna kalimat itu lebih dalam lagi, jelas SBY tidak menginginkan orang plin-plan, yang berubah-ubah pendirian, memiliki ambisi pribadi, tidak loyal kepada presiden dan tentunya ingin tenar sendiri. Lebih dalam lagi, maaf, ini juga dapat diartikan sebagai penolakan SBY untuk berduet dengan Jusuf Kalla kembali, yang sampai 20 Oktober mendatang masih menduduki posisi wapres.

Kebalikan dari Partai Demokrat, Partai Golkar justru mencitrakan diri sebagai partai yang pernah besar, tetapi sudah menyatakan “kalah sebelum bertanding” menjelang pilpres ini. Anehnya pula, berbagai strategi masih pula dimainkan oleh segelintir tokoh Golkar untuk tetap menyandingkan Kalla dengan SBY. Semakin aneh lagi, Golkar masih pula memberi prasyarat politik bagi pembentukan koalisi dengan “partai yang kemungkinan memenangi pilpres” mendatang.

Ini sama dengan yang dilakukan PKS terhadap SBY. Padahal kampanye damai pemilu indonesia 2009, sebagai pelaku politik, sepatutnya mereka tahu, SBY bukanlah tokoh yang suka didesak-desak ,mirip dengan gaya berpolitik Soeharto pada era Orde Baru. Pilihan Golkar kini tinggal tiga, menunggu tawaran SBY mengenai siapa yang akan dilamar sebagai cawapres SBY, bisa Siswono Yudhohusodo, bisa pula Akbar Tandjung; tetap kukuh mencalonkan Kalla sebagai capres; atau tidak mau berkoalisi bersama Partai Demokrat dan memilih koalisi lain atau seperti PKS yang katanya akan menjadi independen, tidak mau masuk kubu pemerintah atau kubu oposisi.

Di seberang sana, PDIP juga masih intens membangun koalisi walau masih dalam posisi underdog. Satu hal yang menarik, SBY terlalu yakin bahwa Megawati Soekarnoputri “sudah pasti” akan menjadi pesaingnya, mengulangi Pilpres 2004. Padahal, masih ada kemungkinan Mega tidak akan maju sebagai capres, melainkan hanya sebagai the king maker. Kini mulai beredar isu bahwa Mega akan digantikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres yang diusung PDIP.

Namun semua itu belum pasti. Yang pasti ialah, jika Mega ingin mundur dari pencalonannya sebagai presiden, itu harus sesuai dengan konstitusi partai, yaitu sebagai hasil dari Kongres Nasional PDIP. Menyelenggarakan kongres untuk masa yang sempit tentu bukan hal mudah. Namun, masih ada celah politik lain, pengunduran diri Megawati dilakukan pada saat yang mirip Rapimnas Khusus PDIP di mana Mega sebagai ketua umum yang memiliki hak prerogatif untuk membuat keputusan penting partai, kemudian menyatakan diri mundur dari pencalonan dan mendukung Sultan.

Hal yang paling “menggelikan” ialah upaya Prabowo Subianto yang “wira wiri” (ke sana-kemari) mencari dukungan dari partai-partai dalam melakukan kampanye damai pemilu indonesia 2009, Dukung saya Ya pasang linknya di sidebar!!(meminjam istilah Mas J. Kristiadi) partai “nasakom” alias “nasibnya nol koma”, yaitu partai-partai yang tidak lolos parliamentary threshold. Prabowo yang baru masuk secara intens dalam kancah politik sebagai patron Partai Gerindra mungkin baru menyadari, membangun koalisi ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Papua, di era 1990-an lalu. Memimpin Kopassus atau pasukan Kostrad memang lebih mudah ketimbang memimpin partai atau koalisi partai karena militer dapat dikomando, sedangkan para politikus sipil dapat berpolitik zig-zag yang sulit diterka. Penulis mengatakan menggelikan karena kalaupun Prabowo terpilih menjadi presiden, bagaimana ia bisa menjaga keseimbangan kekuatan eksekutif legislatif jika partai-partai yang mendukungnya sebagian besar tidak memiliki kursi di parlemen.

Upaya Prabowo itu pun mulai disalip oleh Partai Demokrat yang juga mendekati partai-partai kecil tersebut. Bahkan timbul isu bahwa SBY akan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang menunda penerapan parliamentary threshold, suatu yang hampir pasti tidak akan dilakukan SBY sebagai seorang yang safety player. Melihat berbagai manuver partai- partai politik yang ibarat bermain sirkus, mungkin memusingkan para konstituen.

Termasuk juga manuver di internal Partai Golkar, PPP, dan PAN yang terjadi konflik internal mengenai siapa yang akan didukung dan kubu koalisi mana yang akan mereka masuki? Bagi mereka yang masih berada di bangku perguruan tinggi, khususnya di Departemen Ilmu Politik, ini merupakan ladang studi yang baik untuk diamati. Namun para mahasiswa ini pasti akan terheran-heran dan bingung. Mengapa teori-teori politik yang mereka pelajari tidak dapat digunakan dalam menganalisis koalisi partai di Indonesia yang tanpa ideologi?

Di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat (AS) saja yang menganut paham liberalisme, ada dua pendekatan yang berbeda, yakni antara konservatisme yang dianut Partai Republik dan liberalisme altruistik yang dianut Partai Demokrat. Mahasiswa juga akan bingung mencerna kalimat SBY yang mengatakan, “ Koalisi tidak dibangun atas dasar persamaan ideologi, melainkan atas dasar kesamaan mengenai kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan lain sebagainya.

”Apakah cara pandang kaum sosialis, liberalis, konservatif, agamais, dan nasionalis akan sama mengenai hal-hal yang disebutkan SBY itu? Jawabannya tentunya bukan pada “rumput yang bergoyang” seperti lagunya Ebiet G Ade.(*)

Sumber: Seputar Indonesia, Selasa, 21 April 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/231622/38/

Kampanye Damai Jurus 212 Indonesia

April 23, 2009 oleh girathe182

mengingat blog ini sama sekali tidak membahas mengenai kampanye damai pemilu 2009, maka mulai dari keyword, title, description saya ganti dan lebih fokus ke kontes seo tetapi masih tetapi menyentil mengenai target keyword ini. Kecuali saya politikus yang suka membahas politik dan seputar kampanye pemilu, mungkin bisa mempertahankan originalitas title, keyword dan deskripsi dengan makna sesungguhnya

dengan title “kampanye damai pemilu indonesia 2009“, sama dengan “ Kampanye“, dalam waktu sekitar tiga puluh  menitan sudah ke index oleh si google, tetapi pada hasil search nya tidak memuaskan.

Ikut Lomba SEO Pemilu Damai 2009 Yuk!

April 19, 2009 oleh girathe182

Akhirnya saya putuskan untuk  ikut dalam kompetisi SEO (Search Engine Optimization) lokal yang diadakan oleh Pogung kali ini. Dengan kata kunci  “kampanye damai pemilu indonesia 2009“.

Seperti yang kita harapkan untuk pemilu tahun 2009 ini adalah Pemilu yang Damai. Dengan mengadakan lomba SEO yg bertema kampanye damai untuk pemilu Indonesia tahun 2009 ini, mengajak (paling tidak) Blogger untuk mewujudkan Pemilu Indonesia Damai.

Lomba Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

Februari 3, 2009 oleh girathe182

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 akan menjadi kata kunci yang paling banyak di tembak oleh para pemain SEO asal indonesia. Karena ini merupakan ajang Lomba SEO yang diadakan oleh sang master SEO pogung177. Kampanye damai untuk pemilu 2009 ini memperebutkan hadiah jutaan rupiah. Selain hadiah yang sangat menggiurkan, lomba SEO kampanye pemilu 2009 akan berjalan sangat ketat karena waktunya yang sangat longgar, yaitu dalam kurun waktu tiga bulan hal ini memungkinkan blogger Indonesia untuk meramaikan damainya kampanye pemilu 2009 ini.

Banyak sekali manfaat yang dapat kita petik dari Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009:

1. Ajang kampanye pemilu Indonesia 2009 yang damai

2. Tempat menjalin persahabatan sesama blogger seluruh Indonesia

3. Momen yang tepat untuk belajar SEO

4. Kesempatan untuk mendapatkan jutaan rupiah

Hello Indonesia 2009!

Februari 3, 2009 oleh girathe182

Melalui kampanye damai pemilu indonesia 2009 Secara tidak langung, kontes SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 memaksa peserta mengisi blog mereka secara teratur. Apakah benar kalau tidak ada cara lain menaikkan ranking/posisi selain mengisi content secara berkala dengan hal-hal berhubungan dengan target keyword dalam hal ini kampanye damai pemilu indonesia 2009

Selama ini banyak peserta yang jarang ngeblog. Dengan adanya kontest ini, mereka menjadi aktif, mencari ide buat mengisi postingan blog-blognya, terkadang terkesan narsis, bahkan ada yang tidak nyambung, karena hanya kejar setoran buat update konten aja. jadi buat rekan-rekan yang mengikuti kontes SEO “kampanye damai pemilu indonesia 2009” jangan khawatir kalah, karena kita tanpa sadar telah melakukan dan belajar banyak.

Kampanye Damai Ngeblog Kita Bisa